[Fiksi] i Hate him!! - What is Love?
Aku berdiri mematung di ambang pintu. Memperhatikan dia yang duduk di bangku kami, walaupun aku merasa lega akhirnya Kyungsoo kembali duduk di sampingku, tapi aku tidak mengerti apa yang ia lakukan sekarang.
Kaca mata hitam yang dikenakannya itu... semakin membuatnya aneh dimataku. Ayah! kenapa ada mahkluk seperti dia di dunia ini?
Dia menatapku, tersenyum lebar dengan melambaikan tangan. Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya sampai dia melakukan hal seperti itu. Aku menarik napas sembari mulai berjalan, masih tak lepas memperhatikan Kyungsoo yang duduk di bangku. Seisi kelas pagi itu tertawa kecil dan membiacarakan Kyungsoo.
"Ada apa dengan Kyungsoo?"
Hari ini hari apa? selasa? aku benci hari selasa. Kuharap dewa hari kamis mau mampir ke hari selasa.
Kududukkan diriku dengan tenang tanpa berkomentar. Kemudian dia menyodorkan sesuatu padaku, meletakkannya diatas meja tepat di hadapanku. Aku menatap benda itu, sebuah kotak bekal.
Kemudian beralih menatapnya. Dia mengulas senyum. Aku mendecak, "Lepaskan kaca matamu, kau lebih aneh dari sebelumnya." ucapku sembari membuka bekal darinya.
"Aku hanya ingin kau bisa melihatku dengan nyaman," Kyungsoo menunduk, melepaskan kaca matanya.
"Iks, penampilanmu yang seperti itu hanya akan membuat mataku katarak." Aku menatap bekal yang ada di hadapanku.
Kyungsoo?
Aku beralih menatapnya. Sebenarnya, sudah lama aku ingin sekali mencicipi makanan buatan Kyungsoo. Dan untuk pertama kalinya dia menyiapkannya untukku. Aku merasa terharu.
"Ini buatanmu?" aku menatapnya tidak yakin, berpura-pura tetap menjadi diriku yang sebenarnya. Yang tak peduli dengan apapun yang Kyungsoo lakukan. "Kyungsoo-ya? kau tahu aku sangat membencimu tapi kenapa kau masih bersikap baik padaku?"
"Lalu jika kau membenciku apa aku harus membencimu juga?"
Entahlah, terserah saja. Mau membenciku atau tidak terserah dan semaunya. Aku kembali menatap makanan di hadapanku tanpa memberi komentar. Untuk apa Kyungsoo memberikan bekalnya padaku, padahal sekalipun dia tidak pernah menawarkannya padaku. Dan hari ini, dia sedikit aneh.
"Hai Kyungsoo, kau membawa bekal hari ini?"
Kami berdua beralih pada arah pandang Nari yang tiba-tiba datang. Dia menyangga tubuhnya pada bangku dengan kedua tangan, tepat di samping Kyungsoo. Dan aku tidak nyaman dengan keberadaannya.
"Itu bekalmu?" Nari menunjuk bekal yang sedang kupegang dengan kedua tanganku. Aku menatap Kyungsoo yang sedang menatapku juga. "Kelihatannya enak?" lanjutnya.
Kyungsoo masih diam, tidak memberi jawaban. Katakan bahwa ini bekal untukku? aku menatap Kyungsoo penuh harap. Dia mata memberikan pandangan yang sulit kubaca.
"Ini bekal untukku!" Sahutku cepat, kemudian menutup kembali kotak bekal itu dan menggenggamnya erat.
"Benarkah? apa aku tidak salah dengar?"
"Memangnya kenapa?" aku balik bertanya. Menatapnya dengan kedua mata tajam.
"Bukannya kau tidak pernah sudi memakan masakan Kyungsoo?" Nari tersenyum miring, yang membuatku naik darah. Aku memang membenci Kyungsoo, tapi bukan berarti aku.. ah sudahlah!
Aku bangkit dari tempat dudukku. Kemudian berteriak tepat di wajahnya, "Aku belum memakannya sedikitpun! kalau kau mau, ambil saja! bodoh!"
"Yang bodoh itu kau! Setelah melakukan semua itu terhadap Kyungsoo, kau masih bisa memakan bekal darinya. Ah jelas saja, kau tidak pernah makan makanan enakkan? karena tidak ada yang memasak untukmu!"
Aku terhenyak, beraninya dia mengatakan hal itu. Rasanya jantungku jatuh ke perut. "Tutup mulutmu! Kya!!" Reflek aku menjambak rambutnya. Menariknya keras-keras sampai membuat gadis itu menjerit.
Kyungsoo yang sedari tadi tutup mulut dan memperhatikan kami dengan wajah bingung, akhirnya mengambil tindakan. Ia meraih tanganku dan mengenggamnya erat. Berusaha menjauhkanku dari Nari yang berusaha menjambakku juga. Aku masih tidak ingin melepaskannya, bahkan siap menjadikannya botak.
"Seul Mi, hentikan!" Pekik Kyungsoo, kini dia merangkul tubuhku. Dan detik berikutnya, aku menyerah. Bagaimanapun juga Kyungsoo seorang lelaki yang bisa menyeret tubuhku dengan mudah.
"Hentikan! Apa ini? Kenapa kalian membuat keribut dipagi hari?" Kim JongIn si ketua kelas angkat bicara. Dia berdiri di samping Cho Nari dan menatap kami bergantian.
"Dia yang memulainya, dia yang menjambakku duluan!" Sergah Nari cepat. Aku dan Kyungsoo menatapnya dengan kedua mata melebar.
"Kalau saja kau tidak mengolok Seul Mi, dia tidak akan melakukan hal itu padamu."
Kyungsoo membelaku, untuk apa dia membelaku!
JongIn menatap kami bergantian, bingung ingin mengatakan apa karena setiap kali dia akan bicara, kalimatnya terpotong oleh ucapan Nari dan Kyungsoo yang saling menyalahkan.
"Aku yang salah!" Sahutku cepat. membuat mereka terdiam. dengan cepat aku beranjak dari tempatku. Pergi menuju toilet. Mungkin tempat itu adalah tempat terbaik untuk melampiaskan amarahku.
Kulangkahkan kakiku lebar-lebar menembus koridor pagi itu. Aku sangat kesal jika seseorang mempermasalahkan tentang kedua orang tuaku yang sudah tiada. Aku, aku tidak suka.
Kulemparkan pintu itu keras-keras. Dalam keheningan ruangan itu, aku menangis. Meruntuki sikapku yang menyedihkan. Kyungsoo, aku begitu alergi terhadapnya. Tapi apa yang sudah kulakukan tadi, menerima bekal buatannya begitu saja? Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan. Saat menyentuhku saja aku merasa harus datang kerumah sakit. Apalagi jika aku memakan bekal darinya.
Apa yang sudah terjadi padaku?
Ada apa ini?
Entah kenapa semuanya terlintas dalam ingatanku. Saat Kyungsoo dengan baik hati mengambilkan pensilku yang terjatuh dan aku mencucinya, saat tanpa sengaja Kyungsoo menciumku, dan aku memplasternya. Saat Kyungsoo menangis di depanku. Sebenarnya, ada apa denganku?
Aku menangis lagi. Semakin pecah saat kurasakan sesak di hatiku, kalau saja aku bisa mengatakan bahwa keanehan ini begitu kronis. Apa mungkin yang dikatakan Jin Hye benar. Entahlah.
"Seul Mi? kau baik-baik saja?" suara itu milik Jin Hye. Terlambat sekali dia baru menanyakan keadaanku setelah berjam-jam di dalam toilet.
Aku keluar dengan kedua mata yang sembab. Jin Hye menyambutku dengan sebuah pelukan dan aku membalasnya. Dia paling tahu apa yang kubutuhkan. Hanya Jin Hye yang bisa mengerti aku.
"Jin Hye-ya?" aku memanggil namanya dengan berteriak getar.
"Jangan menangis lagi. Maafkan aku tidak bisa membantumu tadi."
"Jelas saja, karena kau belum datang." Gerutuku sembari mengentakkan kaki.
"Maafkan aku. Oh ya, Kyungsoo menunggumu di taman. Kau.. mau bertemu dengannya?" Jin Hye melepaskan pelukannya dan menatapku tidak yakin.
Aku mengernyit, haruskah aku datang? ah tidak...
"Seul Mi? akui saja!" Jin Hye menggoncang tubuhku, aku menatapnya ragu. "Akui saja kalau kau menyukai Kyungsoo!"
"Tidak! Aku sangat membencinya. Bagaimana bisa aku menyukainya!"
"Seul Mi, kau tetap saja bersikap naif seperti itu. Semua sudah tergambar jelas di wajahmu." Jin Hye menunjuk hidungku dan menekannya pelan.
Aku tidak tahu apa aku benar-benar jatuh cinta atau malah sebaliknya?
Kulihat Kyungsoo duduk tenang di bangku taman sendirian. Bermain dengan tangannya sendiri dan sibuk memperhatikan anak-anak yang lain, yang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing. Aku berjalan mendekat, entah apa yang dia harapkan dariku sampai menyuruhku datang ke taman. Jin Hye sudah mengawasiku dibalik semak, yang standby bisa saja Nari datang dan membalas dendam padaku.
"Seul Mi?" panggil Kyungsoo ketika melihatku datang. Aku tersenyum masam dan duduk di sampingnya. Dia menoleh ke sebelah kiri dan mengambil sesuatu, kotak bekal yang tadi kuperebutkan dengan Cho Nari. "Aku, memang sengaja menyiapkannya untukmu, Makanlah."
"Aku tidak lapar."
Dia menatapku, yang ketika itu segera kulempar tatapanku ketempat lain. Menghindari mata bulatnya yang menyebalkan. Rasanya ingin sakali mencoloknya dengan jemariku. Kutarik napas panjang, meredam perasaan aneh itu lagi.
"Baiklah. Aku pergi dulu."
Apa? hanya itu?
dia memanggilku hanya untuk itu? Apa-apaan ini? Apa dia sedang bercanda?
Tetap saja Do Kyungsoo adalah manusia paling menyebalkan. Kubiarkan dia pergi begitu saja, namun dia meninggalkan bekalnya di bangku bersamaku. Kuraih bekal itu dan membukanya, benar-benar masih utuh seperti tadi pagi. Namun rasanya sedikit aneh karena ada sebuah kertas di sana.
Dengan ragu kuraih kertas itu, membukanya dan membaca tulisan di dalamnya.
Do Kyungsoo!! Kenapa dia sangat menyebalkan, kenapa dia tidak mengatakannya secara langsung padaku! Namun aku tertawa saat membaca kalimat terakhirnya.
"...aku tidak punya keberanian mengatakannya padamu, aku takut kau mencekikku."
Kyungsoo?
Aku beralih menatapnya. Sebenarnya, sudah lama aku ingin sekali mencicipi makanan buatan Kyungsoo. Dan untuk pertama kalinya dia menyiapkannya untukku. Aku merasa terharu.
"Ini buatanmu?" aku menatapnya tidak yakin, berpura-pura tetap menjadi diriku yang sebenarnya. Yang tak peduli dengan apapun yang Kyungsoo lakukan. "Kyungsoo-ya? kau tahu aku sangat membencimu tapi kenapa kau masih bersikap baik padaku?"
"Lalu jika kau membenciku apa aku harus membencimu juga?"
Entahlah, terserah saja. Mau membenciku atau tidak terserah dan semaunya. Aku kembali menatap makanan di hadapanku tanpa memberi komentar. Untuk apa Kyungsoo memberikan bekalnya padaku, padahal sekalipun dia tidak pernah menawarkannya padaku. Dan hari ini, dia sedikit aneh.
"Hai Kyungsoo, kau membawa bekal hari ini?"
Kami berdua beralih pada arah pandang Nari yang tiba-tiba datang. Dia menyangga tubuhnya pada bangku dengan kedua tangan, tepat di samping Kyungsoo. Dan aku tidak nyaman dengan keberadaannya.
"Itu bekalmu?" Nari menunjuk bekal yang sedang kupegang dengan kedua tanganku. Aku menatap Kyungsoo yang sedang menatapku juga. "Kelihatannya enak?" lanjutnya.
Kyungsoo masih diam, tidak memberi jawaban. Katakan bahwa ini bekal untukku? aku menatap Kyungsoo penuh harap. Dia mata memberikan pandangan yang sulit kubaca.
"Ini bekal untukku!" Sahutku cepat, kemudian menutup kembali kotak bekal itu dan menggenggamnya erat.
"Benarkah? apa aku tidak salah dengar?"
"Memangnya kenapa?" aku balik bertanya. Menatapnya dengan kedua mata tajam.
"Bukannya kau tidak pernah sudi memakan masakan Kyungsoo?" Nari tersenyum miring, yang membuatku naik darah. Aku memang membenci Kyungsoo, tapi bukan berarti aku.. ah sudahlah!
Aku bangkit dari tempat dudukku. Kemudian berteriak tepat di wajahnya, "Aku belum memakannya sedikitpun! kalau kau mau, ambil saja! bodoh!"
"Yang bodoh itu kau! Setelah melakukan semua itu terhadap Kyungsoo, kau masih bisa memakan bekal darinya. Ah jelas saja, kau tidak pernah makan makanan enakkan? karena tidak ada yang memasak untukmu!"
Aku terhenyak, beraninya dia mengatakan hal itu. Rasanya jantungku jatuh ke perut. "Tutup mulutmu! Kya!!" Reflek aku menjambak rambutnya. Menariknya keras-keras sampai membuat gadis itu menjerit.
Kyungsoo yang sedari tadi tutup mulut dan memperhatikan kami dengan wajah bingung, akhirnya mengambil tindakan. Ia meraih tanganku dan mengenggamnya erat. Berusaha menjauhkanku dari Nari yang berusaha menjambakku juga. Aku masih tidak ingin melepaskannya, bahkan siap menjadikannya botak.
"Seul Mi, hentikan!" Pekik Kyungsoo, kini dia merangkul tubuhku. Dan detik berikutnya, aku menyerah. Bagaimanapun juga Kyungsoo seorang lelaki yang bisa menyeret tubuhku dengan mudah.
"Hentikan! Apa ini? Kenapa kalian membuat keribut dipagi hari?" Kim JongIn si ketua kelas angkat bicara. Dia berdiri di samping Cho Nari dan menatap kami bergantian.
"Dia yang memulainya, dia yang menjambakku duluan!" Sergah Nari cepat. Aku dan Kyungsoo menatapnya dengan kedua mata melebar.
"Kalau saja kau tidak mengolok Seul Mi, dia tidak akan melakukan hal itu padamu."
Kyungsoo membelaku, untuk apa dia membelaku!
JongIn menatap kami bergantian, bingung ingin mengatakan apa karena setiap kali dia akan bicara, kalimatnya terpotong oleh ucapan Nari dan Kyungsoo yang saling menyalahkan.
"Aku yang salah!" Sahutku cepat. membuat mereka terdiam. dengan cepat aku beranjak dari tempatku. Pergi menuju toilet. Mungkin tempat itu adalah tempat terbaik untuk melampiaskan amarahku.
Kulangkahkan kakiku lebar-lebar menembus koridor pagi itu. Aku sangat kesal jika seseorang mempermasalahkan tentang kedua orang tuaku yang sudah tiada. Aku, aku tidak suka.
Kulemparkan pintu itu keras-keras. Dalam keheningan ruangan itu, aku menangis. Meruntuki sikapku yang menyedihkan. Kyungsoo, aku begitu alergi terhadapnya. Tapi apa yang sudah kulakukan tadi, menerima bekal buatannya begitu saja? Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan. Saat menyentuhku saja aku merasa harus datang kerumah sakit. Apalagi jika aku memakan bekal darinya.
Apa yang sudah terjadi padaku?
Ada apa ini?
Entah kenapa semuanya terlintas dalam ingatanku. Saat Kyungsoo dengan baik hati mengambilkan pensilku yang terjatuh dan aku mencucinya, saat tanpa sengaja Kyungsoo menciumku, dan aku memplasternya. Saat Kyungsoo menangis di depanku. Sebenarnya, ada apa denganku?
Aku menangis lagi. Semakin pecah saat kurasakan sesak di hatiku, kalau saja aku bisa mengatakan bahwa keanehan ini begitu kronis. Apa mungkin yang dikatakan Jin Hye benar. Entahlah.
***
"Seul Mi? kau baik-baik saja?" suara itu milik Jin Hye. Terlambat sekali dia baru menanyakan keadaanku setelah berjam-jam di dalam toilet.
Aku keluar dengan kedua mata yang sembab. Jin Hye menyambutku dengan sebuah pelukan dan aku membalasnya. Dia paling tahu apa yang kubutuhkan. Hanya Jin Hye yang bisa mengerti aku.
"Jin Hye-ya?" aku memanggil namanya dengan berteriak getar.
"Jangan menangis lagi. Maafkan aku tidak bisa membantumu tadi."
"Jelas saja, karena kau belum datang." Gerutuku sembari mengentakkan kaki.
"Maafkan aku. Oh ya, Kyungsoo menunggumu di taman. Kau.. mau bertemu dengannya?" Jin Hye melepaskan pelukannya dan menatapku tidak yakin.
Aku mengernyit, haruskah aku datang? ah tidak...
"Seul Mi? akui saja!" Jin Hye menggoncang tubuhku, aku menatapnya ragu. "Akui saja kalau kau menyukai Kyungsoo!"
"Tidak! Aku sangat membencinya. Bagaimana bisa aku menyukainya!"
"Seul Mi, kau tetap saja bersikap naif seperti itu. Semua sudah tergambar jelas di wajahmu." Jin Hye menunjuk hidungku dan menekannya pelan.
Aku tidak tahu apa aku benar-benar jatuh cinta atau malah sebaliknya?
***
Kulihat Kyungsoo duduk tenang di bangku taman sendirian. Bermain dengan tangannya sendiri dan sibuk memperhatikan anak-anak yang lain, yang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing. Aku berjalan mendekat, entah apa yang dia harapkan dariku sampai menyuruhku datang ke taman. Jin Hye sudah mengawasiku dibalik semak, yang standby bisa saja Nari datang dan membalas dendam padaku.
"Seul Mi?" panggil Kyungsoo ketika melihatku datang. Aku tersenyum masam dan duduk di sampingnya. Dia menoleh ke sebelah kiri dan mengambil sesuatu, kotak bekal yang tadi kuperebutkan dengan Cho Nari. "Aku, memang sengaja menyiapkannya untukmu, Makanlah."
"Aku tidak lapar."
Dia menatapku, yang ketika itu segera kulempar tatapanku ketempat lain. Menghindari mata bulatnya yang menyebalkan. Rasanya ingin sakali mencoloknya dengan jemariku. Kutarik napas panjang, meredam perasaan aneh itu lagi.
"Baiklah. Aku pergi dulu."
Apa? hanya itu?
dia memanggilku hanya untuk itu? Apa-apaan ini? Apa dia sedang bercanda?
Tetap saja Do Kyungsoo adalah manusia paling menyebalkan. Kubiarkan dia pergi begitu saja, namun dia meninggalkan bekalnya di bangku bersamaku. Kuraih bekal itu dan membukanya, benar-benar masih utuh seperti tadi pagi. Namun rasanya sedikit aneh karena ada sebuah kertas di sana.
Dengan ragu kuraih kertas itu, membukanya dan membaca tulisan di dalamnya.
Do Kyungsoo!! Kenapa dia sangat menyebalkan, kenapa dia tidak mengatakannya secara langsung padaku! Namun aku tertawa saat membaca kalimat terakhirnya.
"...aku tidak punya keberanian mengatakannya padamu, aku takut kau mencekikku."
SELESAI








0 Response to "[Fiksi] i Hate him!! - What is Love?"
Posting Komentar