[Fiksi] i Hate him!!! - I Really Know
Kyungsoo terus mengejar langkahku. Padahal aku sudah setengah berlari dan dia masih tetap berada di belakang tubuhku dengan berkali-kali memanggil namaku. Aku mengumpat dalam hati dengan ringisan khawatir. Dia sama saja penyakit bagiku. Kalau aku terkena tubuhnya, barang sedikit saja-aku bisa masuk rumah sakit.
"Tunggu!!!" Teriakan itu membuat langkahku terhenti. Aku berbalik dengan cepat kemudian memasang wajah bengisku dan...
Dia menabrakku. Dia menabrakku dan bibirnya menyentuh dahiku. Do Kyungsoo! Apa yang kau lakukan! Aku menbencimu, sungguh.
"KYA!" Aku berteriak sekuat tenaga. "Apa yang kau lakukan padaku!" geramku lagi. Dia membulatkan matanya dan mendekap bibirnya dengan kedua tangan.
"Seul Mi, aku tidak sengaja. Sungguh!" ucapnya dengan bibir tertutup tangan.
"Tidak sengaja kepalamu! Aku membencimu, jangan mengejarku lagi!" sekali lagi aku berteriak frustasi. Napasku tersenggal dan berkali-kali aku mengertakkan gigi untuk menahan amarah yang meledak-ledak.
Aku berbalik dengan menangis keras, seluruh koridor menatapku dan Kyungsoo. Kuabaikan begitu saja tatapan aneh sekaligus prihatin itu. Aku berjalan ke toilet, ingin segera melakukan ritual membersihkan diri.
***
Sudah kubilang aku tidak menyukainya. Tatapi dia malah terus-terusan mengejarku. Aku tidak tahu kenapa aku begitu membencinya. Padahal sekalipun dia tidak mempunyai salah padaku, tapi kali ini dia melakukan kesalahan besar terhadapku. Aku akan bertanya pada dokter obat anti biotik apa yang bisa kukonsumsi agar dahiku segera sembuh.
Aku kembali ke kelas setelah merasa cukup tenang. Teman-teman memperhatikanku dengan meringis geli. Kuhela napas dalam-dalam. Pelajaran belum dimulai dan aku bisa mencari tempat, aku tidak ingin duduk di samping Kyungsoo.
Kyungsoo menatapku dengan tatapan sendu, lebih tepatnya bersalah. Teruslah seperti itu agar dia tidak mirip dengan katak ataupun tersier yang menyeramkan. Aku duduk di bangku milikku dengan tenang, membereskan buku-buku yang ada di laci dan meletakkannya dalam pelukanku.
"Seul Mi, tunggu," ucapnya pelan saat aku bangkit dari tempatku. Aku menatapnya dengan maya memicing. "tetaplah beradi di sini, biar aku saja yang bertukar tempat dengan Baekhyun. Aku sudah menanyakan padanya tadi, dan dia mau duduk bersamamu." lanjutnya. Yang membuatku sedikit terkejut.
Dalam hitungan detik Kyungsoo sudah tidak berada di sampingku beserta seluruh perangkat belajarnya. Dia duduk dibangku Baekhyun dan Baekhyun dengan tersenyum cerah datang padaku.
"Annyeong, Kim Seul Mi." Baekhyun menyapaku kemudian duduk di bangku Kyungsoo, tapi entah kenapa aku tidak rela jika tempat itu ditempati orang lain.
Ah sudahlah, ini kabar baik dan kiamat sudah berakhir. Aku tersenyum dan kembali duduk. Bisa kulihat Kyungsoo yang berada di bangku seberang masih memperhatikanku. Tadi tanpa sengaja aku melihat ada bercak merah di bibir Kyungsoo. Apa mungkin karena terbentur dahiku dia sampai seperti itu? memangnya dahiku sekeras batu sampai dia seperti itu. Berlebihan!
Kuletakkan kembali buku-buku milikku ke dalam laci. Baekhyun bersenandungria di sampingku, suaranya cukup bagus. Aku merasa suasana sedikit berbeda dari Kyungsoo. Kyungsoo yang biasanya tak banyak bicara dan akan bertanya seperlunya saja, sedang Baekhyun sepanjang bersamaku dari beberapa detik yang lalu tak bisa diam. Aku tidak nyaman dengannya. Kurasa Byun Baekhyun tidak cukup baik menggantikan Kyungsoo.
"Oh ya, Seul Mi? kenapa dengan dahimu?" Baekhyun menunjukkan jarinya tepat di dahiku. Tepat pada dua plaster yang menyilang di dahiku. Yah, sengaja aku membungkusnya dengan plaster karena itu bukan sentuhan biasa. Kalaupun di klinik tadi ada perban, pasti aku akan menggunakan perban
"Ini? aku terjatuh."
"Sampai seperti itu?" ucapnya tidak percaya, aku mengangguk. "Oh ya kkaebsong. Kasihan sekali. Pasti rasnya sakit." Baekhyun menatapku ngeri.
Kalau dia tahu, rasanya ini lebih dari sakit. Kyungsoo seperti menusuk kepalaku dengan jarum suntik. Yang lukanya tidak nampak namun efeknya benar-benar membuatku ingin mati.
"Seperti yang kau bayangkan, Byun Baekhyun."
"Aku turut bersedih."
"Terimakasih atas perhatianmu."
"Yah, karena kau partnerku."
"Partner?" Aku menatapnya tidak mengerti. Dia tersenyum dan bersenandung lagi, tak mengindahkan pertanyaanku. Apa maksudnya partner? Kyungsoo tak pernah memiliki prosedur seperti itu dengan teman sebangku, kalaupun iya, jelas aku menolaknya.
Aku tak menggubris ucapan Baekhyun. Hanya membiarkan dia bernyanyi sesuka hatinya sementara ssaem belum juga datang. Dan aku mulai merasa bosan.
***
Aku mencoret cepat buku sketsaku. Untuk pertama kalinya aku menggambar sesuatu. Tidak, aku hanya merasa jenuh, entah kenapa dan apa alasannya. Jam istirahat ku habiskan ditaman sendirian, tanpa Jin Hye yang sudah tertawa terbahak melihat dahiku yang aneh dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Kyungsoo menciumku?
Itu kecelakaan. Aku tidak ingin mengingatnya. Ark! Do Kyungsoo!
"Seul Mi?"
Yak! Aku terlonjak dari tempatku duduk. Dahiku mengkerut dalam, menatap Kyungsoo yang berjalan mendekat ke arahku, dengan membawa sebotol cyder dan bugoppang di tangannya. Ada apa dengannya?
Aku mundur ketika dia semakin mendekat. Dan detik itu juga Kyungsoo terhenti, menatapku dengan mata bulatnya. Terik matahari menerpa wajahnya, namun sama sekali tak membuat Kyungsoo menyipitkan kedua matanya. Dan aku bisa melihat luka di bibirnya yang nampak jelas. Dia membeku di tempatnya sembari menatapku dan tak berucap kalimat apapun.
Seolah napasku tertahan, akupun tak dapat mengatakan apapun padanya. Bibirku menjadi keluh. Aku benar-benar tersihir dengan tatapannya yang begitu tak kusuka itu.
"Berhentilah menatapku!" Akhirnya aku sanggup berteriak. Kyungsoo tak mengalami pergerakan sedikitpun.
"Aku, hanya ingin minta maaf." ucapnya pelan, namun kau sanggup mendengarnya.
Kami berdua kembali saling melempar pandang. kemudian aku mendecak. "Pergilah dari hadapanku, Kyungsoo!"
"Seul Mi, aku tidak bermaksud,"
"Jangan banyak bicara!" kedua mataku melotot. Aku tdiak tahu kenapa amarahku meninggi ketika bersama dengan Kyungsoo.
Kyungsoo menatapku terkejut, kedua matanya semakin lebar dan membuatku tak tahan ingin segera menusuknya.
"Beri aku kesempatan untuk bicara, kali ini saja. Setelah itu aku tidak akan bicara lagi padamu."
Aku terdiam, berpikir sejenak. Kemudian mengangguk.
"Tolong beri aku alasan kenapa kau sangat tidak menyukaiku? kalau alasanmu masuk akal, aku tidaka akan mengganggumu lagi."
Aku menatapnya ragu, bagaimana bisa dia ingin tahu kenapa aku sangat membencinya. Yang jelas aku tidak menyukainya. "Yaksok?"
Kyungsoo mengangguk tanpa ragu. Aku menarik napas besar sebelum bicara, kemudian kembali memikirkan apa alasan yang membuatku begitu membencinya.
"Tidak ada alasan untuk membencimu, Kyungsoo. Sebenarnya aku tidak membencimu, hanya saja aku tidak menyukaimu. Kau mempunyai mata bulat dan bibir tebal yang menggemaskan, kau juga berwajah innocence yang membuatku kesal. Aku tidak suka dengan sifat baikmu kepada semua orang. Aku tidak suka dengan wajahmu yang seperti anak kecil. Aku sangat tidak menyukaimu, sungguh. Rasanya aku ingin muntah jika teman-teman mengajakmu berfoto dan berkerumun di sekitarmu. Aku tdiak suka karena kau selalu saja di bicarakan gadis-gadis di kelas karena bekalmu yang enak dan kau selalu membagi makananmu dengan mereka. Aku tidak suka dengan orang baik sepertimu. Tidak suka dan selamanya tidak suka. Lihat saja penampilanmu yang selalu rapi, membuatku ingin muntah. Sekalipun kau melanggar peraturan sekolah, semua guru urung menghukummu karena kau selalu menurut. Ark! aku benci semua yang ada pada dirimu, Kyungsoo. Kenapa kau harus menjadi orang baik yang berpenampilan rapi seperti ayahku!" Aku bangkit dari tempat dudukku. Kenapa aku mengatakan hal ini padanya, ini adalah rahasia terburukku.
Aku membenci ayahku yangterlalu baik dengan semua orang karena mereka memanfaatkan hal itu. Mereka meminta apapun pada ayahku dan ayahku dengan baik hati memberinya. Aku tidak tahu kenapa ayahku sebaik itu. Bahkan ketika ibuku pergi, ayahku hanya tersenyum dalam tangisnya. Ibuku meninggal karena kecelakaan dan ayahku memaafkan orang yang menabrak ibuku begitu saja tanpa menuntut hal apapun. Aku benci ayahku yang seperti Kyungsoo.
Aku benci! Sangat benci!
"Seul Mi?"
"Berhentilah memanggilku dengan cara seperti itu!" Tanpa kuinginkan bibirku bergetar. Setiap kali membicarakan ayah, aku ingin menangis. Aku begitu menyayanginya, namun juga sangat membencinya.
"Jangan menangis, kumohon." Kyungsoo menatapku cemas, kedua tangannya menggenggam bugoppang dan cyder erat-erat. Sampai membuat makanan itu tak berbentuk.
Aku masih menatap Kyungsoo dengan kedua mata yang basah. Bibirku bergetar. Tak bisa menahan isakan kecil yang tiba-tiba keluar, aku sontak berjongkok dan mendekap wajahku ke lutut, menangis di sana. Bisa kudengar gerak langkah Kyungsoo yang mendekat, kemudian berjongkok di depanku. Aku mengangkat wajahku, menatapnya dengan wajah terburuk yang pernah kutunjukkan pada orang lain.
Kyungsoo menundukkan wajahnya, membuatku mengernyit tidak mengerti. Apa yang dia lakukan? aku mengintip wajahnya yang tertunduk dalam.
APA!!!
Dia menangis?
Aku terduduk begitu saja, sangking terkejutnya karena anak di depanku itu sekarang sedang menangis. Lelucon apa ini!!
"Ya! Kenapa kau ikut menangis?" rengekku kesal, hampir menendang-nendang rerumputan yang ku duduki.
"Karena kau tidak menyukaiku."
Aku terdiam. Memperhatikan Kyungsoo yang sibuk dengan wajahnya yang terbanjiri air mata. Aku tidak tahu kenapa aku merasa berdosa saat melihatnya seperti ini.
Untuk pertama kalinya aku membuat Kyungsoo menangis setelah sekian kali aku memarahinya. Dan rasanya begitu aneh, aku merasa bersalah. Maka dengan sigap aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan memungut cyder yang ia jatuhkan tadi dan membawanya kembali ketempat Kyungsoo. Kubuka minuman itu dan menyodorkannya pada Kyungsoo.
"Sudahlah, berhentilah menangis. Aku tidak suka dengan lelaki yang menangis."
Lalu lelaki seperti apa yang kusuka?
Kyungsoo menatapku dengan matanya yang basah. Oh Kyungsoo, seimut itukah wajahmu walaupun setelah menangis. Aku hampir gila. Harus bagaimana lagi, dia memang terlahir sebagai seorang lelaki berwajah imut dan tanpa dosa. Walaupun aku sangat tidak menyukai lelaki imut dan berwajah bayi seperti Kyungsoo.
Aku kembali duduk, kemudian mengedikkan minuman yang ada di tanganku pada lengan Kyungsoo. Menyuruhnya untuk segera minum-yang seharusnya aku memberikan air putih pada seseorang yang baru selesai menangis bukannya soda. Tapi Kyungsoo sendiri yang membawanya.
Dia menerima soda dari tanganku, hanya menatapnya. Kemudian ia menyeka air mata yang membanjiri pipinya. Kami berdua bergeming, hanya bergelanyut dengan pikiran masing-masing. Dan sampai aku menyadari sesuatu.
"Kyungsoo-ya?" aku beralih menatapnya, "Maafkan aku sudah membencimu dengan alasan sekonyol ini, tapi aku merasa lega saat tahu alasan kenapa aku begitu tidak menyukaimu." Dia menatapku dengan kedua mata sembab, bibir tebalnya mengatup rapat. Sebenarnya aku ingin tertawa melihat ekspresi wajah Kyungsoo yang selucu ini, tapi itu tidak sopan. Hey! Sejak kapan aku sopan terhadap Kyungsoo. Ah ya.. aku hanya ingin menghargai perasaannya.
"Dan terima kasih sudah mau mendengarkanku, aku begitu lega." tanpa permisi aku menepuk-nepuk punggung Kyungsoo dan pergi dari tempat itu begitu saja.
Aku merasa ada lukisan pelangi diatas sana. Menggambarkan betapa bahagianya aku saat ini. Tapi mustahil sekali pelangi muncul di musim panas.
TAMAT








0 Response to "[Fiksi] i Hate him!!! - I Really Know"
Posting Komentar