OPERA TUHAN


Opera Tuhan
            Banyak orang yang percaya tentang dahsyatnya cinta pada pandangan pertama. Namun, ini bukan itu, melihatnya sebagai kenyataan dari balik pelupuk mata saja belum pernah. Dia memang bukan seorang yang terlalu indah untuk dikagumi. Bukan seorang yang kharismanya setinggi everest, juga bukan seorang yang mengagumkan di bawah kilatan flashlight duniawi. Bukan, dia bukan seperti itu. Namun tak berarti juga jika ia seorang yang terlampau biasa dan tak punya banyak point sebagai daya tarik. Tapi dia punya. Dia punya berjuta partikel yang berhasil menarik Masha lebih dalam dan dalam[1]. Itulah yang Masha rasakan, sekarang. 

  Ia kembali menilik halaman depan rumahnya, masih pukul enam lewat lima menit. Sebenarnya bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya, namun sosok tinggi berkulit putih langsat dengan rambut ikal dan memakai setelan hitam yang bersandar dipagar besi teras rumah tetangganyalah yang sedang ia sorot sekarang. Kedua mata kucing berlapis kaca itu hanya mengawasi bangunan tinggi yang baru berdiri di seberang jalan dengan kedua tangan terlipat. Wajahnya yang seputih langsat itu nyaris tidak terlihat karena terhalang oleh kabut. Karena hujan deras semalam, pagi-pagi benar kabut menyapa. Secara sengaja, Masha memperhatikannya lagi diam-diam. Buru-buru menghentikan pergerakan sapu yang tengah menyisir lantai dan menepi di dekat pintu. Kedua matanya mencuri-curi dari balik jendela. Saat melihat anak itu lagi, kegiatan apapun rela ia hentikan sebelum yang menjadi fokus paginya pergi.
Hanya selang beberapa hari yang lalu ia kembali berjumpa dengan teman kecilnya itu. Tapi pertemuan tanpa sengaja itu mempunyai dampak berkepanjangan baginya.  Yang dilihatnya sekarang memang banyak berubah. Seingatnya dulu, dia hanya bocah yang suka menganggu kegiatan bermain anak perempuan setiap liburan sekolah. Namun seiring bergantinya tahun, sekarang yang ia lihat bukan lagi bocah menyebalkan. Namun berubah menjadi sosok lelaki berkaca mata hitam yang nampak mencolok karena kulit putihnya. Berbeda.
Tangan kanannya menyentuh kaca hitam transparan yang menguap karena napasnya. Ia mengerjap sekali, aritmia sedang menjalar ditubuhnya. Seolah tidak bisa ia kendalikan detak jantung yang bermain gila-gilaan dan membuat seluruh uratnya bergetar. Hanya memandang, reaksi anehpun muncul dengan sendirinya.
Bibirnya menghembuskan napas, ia teringat dengan perkataan Alin beberapa hari yang lalu. Seorang muslim haruslah pandai menjaga pandangan. Dan inilah hasil pembangkangan Masha. Entah itu perasaan cinta atau sekedar suka, perasaan tak dikenal itu sudah menjalar kebagian hatinya yang paling dalam. Dan Masha tidak bisa menghentikannya, hanya membiarkannya mengalir apa adanya.
**
Hanya tinggal mengenakan seragam sekolah dan menikmati sarapan, Masha sudah siap berangkat ke sekolah. Sebelum jamaah subuh tadi ia sudah membersihkan diri. Kebiasaan lamanya itu tak bisa terlewatkan walaupun keseringan tubuhnya menggigil karena dingin. Cuaca di Indonesia memang sedang hompimpa. Pagi cerah, siang panas dan sore hujan deras. Efek dari global worming yang membuat cuaca menjadi tidak stabil, padahal seharusnya di bulan Maret sudah memasuki musim kemarau.
Cepat-cepat Masha meraih tas ransel birunya. Seusai sarapan dan setelah berpamitan dengan ibunya, ia segera berjalan menuju jalan raya. Dengan langkah lebar-lebar Masha melangkah, kedua matanya menatap lurus jalanan. Tidak ada yang ia pikirkan selain segera sampai di jalan raya dan mendapatkan angkutan menuju sekolah. Madrasah Aliyah Negeri adalah tempat belajarnya sekarang.
Masha mengelus kedua lenganya dengan tangan berkali-kali. Perjalanan 30 menit tadi meninggalkan efek dingin disekujur tubuhnya. Angkutan umum selalu saja sesak dipagi hari. Belum lagi banyak penunpang yang tidak bertoleransi untuk menutup jendela. Alhasil, tubuh yang hanya berbalut seragam ala kadarnya itu kedinginan. Cepat-cepat Masha melangkah turun dari angkutan berwarna putih itu setelah menyerahkan dua lembar uang ribuan ke supir. Dedauanan disekitarnya masih basah, embun bercampur dengan air hujan. Jalan utama menuju gerbang kedua juga masih dihiasi dengan genangan air.
Disapanya guru piket yang berdiri disamping gerbang, berucap salam sembari mencium tangan. Bukan hanya Masha yang melakukannya, tapi yang lainnya juga, terutama para murid yang tidak membawa kendaraan ke sekolah. Khusus untuk pengendara motor harus masuk lewat pintu gerbang belakang.
Setelah melewati lapangan basket, sampailah Masha di kelasnya. Bertemu dengan Alin, teman sebangkunya yang berangkat 5 menit lebih awal. Masha duduk sambil meletakkan tas ranselnya diatas meja, sedangkan Alin sibuk melipat jaketnya. Meskipun peraturan sekolah sudah mengatakan bahwa memakai jaket sebatas pintu gerbang, tetap saja Alin melepasnya setibanya di kelas. Kalau bertemu dengan guru piket, Alin cuma bisa nyengir. Kalau dapat teguran, meriang atau masuk anginlah yang menjadi alasan utama. Mungkin sebagian guru di sana sudah hafal dengan alasan itu.
Masih dalam suasana pagi yang nikmat dengan ngaji dari speaker besar yang melantunkan surat Yasin. Cepat-cepat Masha mengeluarkan buku ekonominya, menyuruh Alin melakukan hal yang sama. Tujuannya hanya untuk menyalin tugas yang belum terselesaikan semalam.
“Tumben?” Alin mengamati gerakan lincah Masha saat menyalin jawaban.
“Susah, malam-malam hujan bawaannya pengen tidur.” Dan belajar semalam memang berakhir dengan tidur.
Kalau saja guru ekonomi mereka galak. Mungkin Masha nekat buat melek dan merampungkan tugasnya cepat-cepat. Berhubung guru ekonomi mereka penyabar,  cara bicaranya juga kalem bak putri Solo. Jadi Masha tidak sepanik saat mengerjakan tugas kewarganegaraan, yang hobinya di suruh menghapalkan undang-undang jika tidak mengerjakan tugas di rumah.
“Oh, begitu.” Jawab Alin akhirnya. Tidak banyak berkomentar lagi dan membiarkan teman sekaligus sahabatnya itu menyelesaikan pekerjaannya.
Keadaan kelas memang terbilang masih sunyi. Beberapa anak bergantian keluar masuk dan sibuk dengan kegiatan mereka. Baru bisa tenang jika guru piket datang membawa pedang andalan mereka yang biasa digunakan untuk menggebrak meja, tongkat kecil dari bambu. Yang sekali pukul ke meja akan menimbulkan bunyi yang luar biasa menyakitkan, bayangkan saja jika benda itu dipukulkan ke tubuh.
Alin memperhatikan langkah teman sekelasnya yang baru saja masuk. Anak berperawakan tinggi dan tegap itu berjalan tenang memasuki kelas, dia Tegar. Ketua kelas super pendiem yang pernah Alin kenal. Selain pendiem, cara pandang anak itu berbeda. Lebih melihat orang di sekitarnya seperti paranormal yang mencoba menemukan hantu. Kadang-kadang membuat Alin ogah untuk bertanya tentang ulangan atau pengumuman dari sekolah.
“Makasih ya.” Masha menggeser buku milik Alin dari hadapannya. Alin menyambutnya, kemudian meletakkannya di laci meja.
Mereka berdua masuk dalam kelas sosial. Alasannya sederhana, mereka tidak bisa mengoprasikan rumus-rumus fisika dan kimia yang serasa membuat rambut rontok. Maunya belajar dengan ilmu yang pasti, yang dari dulu memang seperti itu. Contohnya saja geografi, dari sebelum bapak mereka lahir sampai sekarang proses terbentuknya batu granit juga masih sama. Tapi sebenarnya semua pelajaran juga sama saja.
Masih fokus dengan Tegar yang sekarang duduk manis di kursinya. Alin lagi-lagi memperhatikan gerak-gerik Tegar setiap pagi. Sama seperti kemarin-kemarin, membuka buku kecil dan menyimak Yasin dalam diam.
“Ngaji juga yuk, contoh tuh si Tegar.” Alin menyenggol lengan Masha dengan lengannya sambil menyorot tempat Tegar.
“Trus dari tadi kamu ngapain?” Masha hanya melirik Tegar sekilas sebelum akhirnya dia juga membuka buku Yasin mini miliknya.
Suasana pagi yang masih adem ayem, ditambah nyanyian ayat Al Qur’an menyeruak setiap ruangan. Bersamaan dengan lalu lalangnya para pelajar yang baru datang dan buru-buru masuk ke kelas mereka masing-masing sebelum Yasin selesai.
**
Kalau boleh menuliskan nama lain, Masha ingin menulis nama lain dalam buku catatan hariannya. Bukan hanya nama itu-itu saja yang selalu menghiasi tiap halaman bukunya. Sudah hamper seperempat halaman yang terisi, semuanya rata-rata puisi, atau sekedar nama lengkap yang masih diingatnya beberapa tahun yang lalu. Diorama Syahputra. Entah kenapa tanpa ada niatan untuk menghafalnya, nama itu sudah permanen dalam otaknya. Sulit sekali menekan tombol delete, malah menjadi bookmark yang setiap di hapus akan terjadi kesalahan dalam otaknya.
Memang ya, jatuh cinta itu laksana mendengar dewa dewi cinta bernyanyi dan menggema di seluruh dunia. Seperti melihat matahari memeluk dengan sayang, seperti melihat bulan menemani malam melewati dinginya mimpi, seperti kata Nidji dalam lagunya. Tapi Masha selalu saja menghalau perasaan itu, bak fatamorgana. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa menggapainya. Dia terlalu jauh, walaupun sudah di depan mata. Seolah ada batasan yang tidak dapat dilewatinya begitu saja.
“Masih mikirin mas Dio?” Alin menyodorkan segelas air mineral pada Masha yang terduduk di pinggir jendela sambil memandang lapangan basket yang kosong.
Dengan wajah kagetnya Masha mengangguk kaku. Kemudian meraih air yang ada di tangan Alin, menusukkan sedotan kecil pada permukaannya dan menghisapnya cepat. Jam 10 pagi adalah waktu istirahat pertama, tidak kurang dari 25 menit. Biasanya mereka berdua hanya membeli minum dan menghabiskan waktu dengan sama-sama menulis. Kalau Masha jago memainkan kata-kata kiasan, maka Alin selalu bermain dengan dunia keduanya dalam cerita pendek.
Mereka berdua memiliki hobi yang tidak jauh berbeda. Terkadang Alin juga sering memesan puisi pada Masha untuk cerpen-cerpen barunya. Cerita yang paling digemari Masha adalah enchanted, salah satu FanFiction buatan Alin. Yah, jaman sekarang memang kebanyakan k-popers jago bikin cerita dalam belum FanFiction. Yang para pemainnya adalah para idola boy group atau girl group.
“Cuma baru lihat sekali, tapi kamunya jadi linglung begini.” Alin beralih duduk disamping Masha dan membuka kaca jendela kelas mereka, Nampak jelas keadaan diluar sana. Beberapa anak duduk-duduk didekat pot besar depan kelas, sebagian berkerumun dan banyak yang mondar-mandir di koridor.
“Susah buat nggak mikirin dia,” Masha membuka halaman pertama buku catatannya. Puisi fatamorgana buatannya dulu, sekarang terasa lebih nyata terjadi padanya.
“Seganteng apa sih?” Alin kembali bertanya, pertanyaan itu sudah pernah ia tanyakan saat pertama kali Masha membicarakan tentang Dio padanya.
“Ganteng itu relatif. Pak Mario Teguh juga ganteng… kata istrinya.” Alin sempat tertawa. Jangankan pak Mario Teguh, pak Ardi guru biologi di kelas 10 juga ganteng. Walaupun sudah punya 4 orang anak dan rambut dikepalanya hampir habis.
“Mas Dio itu…” Lagi-lagi kalimat Masha terpotong, menggantung begitu saja. Dia tidak bisa menggambarkan seperti apa Dio secara lahiriyah. Tidak bisa menuliskan dengan detail gambaran wajahnya, tidak bisa melukiskan setiap keindahan fisik yang terlalu sempurna baginya. Allah terlalu hebat, sampai-sampai terlahir sosok Dio yang muncul dihadapannya dan menyita semua perhatian Masha. “…dia itu…” Masha kembali berpikir keras. Cukup satu kata yang perlu dia katakan.
“Sempurna?” ucap Alin akhirnya. Masha menoleh sambil mengangguk. “hidup masih panjang, Sha. Kamu belum bertemu macam-macam cowok nantinya. Kalau menurutmu sendiri dia fatamorgana, kenapa harus terus dipikir sampai berlarut-larut. Toh, mas Dio juga mungkin udah lupa sama kamu.”
Masha menatap Alin yang sibuk mengamati anak-anak di luar sana. Kalimat terakhirnya begitu membekas di hati Masha. Memang, bisa saja mereka dulu dekat dan sekarang seperti orang tak saling mengenal karena tidak pernah bertemu. Alin benar, batin Masha. Lantas untuk apa terus membuat bayangan wajah itu menghantuinya sendiri. Masha tidak tahu pasti. Lagi-lagi hanya sebuah tanda Tanya besar yang tergambar di buku catatannya untuk ketiga kalinya.
“Kamu ingat Arayan, nggak?” Alin  mengalihkan perhatiannya pada Masha yang sekarang sibuk membuat sebuah tanda tanya yang semakin ditebal-tebalkan dalam bukunya.
“Nggak inget,” gumam Masha tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Yang ganteng itu loh? Yang mesti pakai topi hitam?” Alin kembali memaksakan ingatan Masha, mencoba mengalihkan pikiran Masha dari Dio. Masha bergeming. “Dia boleh juga lo, Sha.”
“Kamu naksir?” balas Masha akhirnya, yang membuat Alin nyengir.
“Hehehe, dia cocoknya sama kamu. Tinggi, putih, cakep. Pas banget, Sha.” Alin menambahi. Kalaupun cocok dengan dirinya sendiri, Alin tak perlu repot-repot berlagak seperti mak comblang.
“Pacaran itu dosa.” Sela Masha. Alin langsung mingkem. Yang jelas dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, yang ada ta’aruf. Itupun ada tata caranya sendiri, bukan seenaknya kayak pacaran yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang. Sedikit banyak, Masha juga ingin merasakan seperti apa rasanya punya pacar. Tapi takut, takut dosa, takut salah, takut terjebak dengan hal-hal yang tidak ia inginkan. Mungkin istilah jatuh cinta sudah cukup baginya, tidak harus memiliki.
**
Cuaca yang semakin menggila, terik matahari menyelimuti Mojokerto siang itu. Jalanan yang padat semakin panas karena asap kendaraan yang berlalu lalang. Masha berdiri di tepian jalan raya menunggu angkutan umum, maklum saja di Indonesia jarang ada halte kalau tidak di kota besar. Terlebih Mojokerto, harus rela memajang diri dipinggiran jalan sambil memperhatikan setiap angkutan yang lewat.
Dengan wajah lusuhnya, Masha masih sibuk mencari-cari angkutan yang siap mengantarnya sampai ke rumah. Beberapa anak berseragam juga melakukan hal yang sama. Jam pulang sekolah memang paling susah menemukan angkutan umum untuk pulang. Apalagi anak sekolahan yang tarifnya separuh dari penumpang biasa. Jarang ada angkutan yang mau berhenti jika hanya mengantar satu dua anak saja.
Dan sampai akhirnya bis kuning dengan penumpang cukup padat itu berhenti setelah Masha melambaikan tangan. Cepat-cepat Masha melompat masuk, sempat mengikis rok span panjangnya agar bisa naik dengan mudah. Duduk di kursi paling belakang dengan beberapa penumpang lainnya.
“Sekolah dimana?” seorang bapak-bapak yang mungkin berusia 50 tahunan itu bertanya ramah.
“Madrasah Aliyah, pak.” Singkat Masha menjawab. Memang kalau dengan orang baru, Masha sedikit kurang ramah. Keseringan tidak suka dengan cara mereka yang menyapa dengan seenaknya atau kurang sopan, tapi jika memang orang tersebut dalam kategori ramah dan lebih tua, Masha masih bisa bertoleransi. Minimal mengeluarkan senyum.
“Oh, dekat sini itu ya?” Masha mengangguk mengiyai. Dan lagi, seolah tak ada yang perlu dibicarakan panjang-panjang, Masha kembali menatap lurus jalanan di depan sana.
Tanpa terasa jarak tempatnya untuk turun sudah dekat. Masha bangkit dari duduknya sambil melempar senyum pada bapak-bapak yang sempat mengajaknya ngobrol sebentar tadi. Ia memegangi besi dekat pintu, sebagai pegangan untuk turun nanti. Dan ketika kondektur bis sudah berteriak, perlahan bis berjalan lambat dan berhenti. Ternyata bukan hanya dia yang turun ditempat yang sama, masih ada satu orang lagi di pintu depan yang turun.
Masha hanya berjalan pelan menjauh dari jalan raya, sementara lelaki yang terbungkus jaket hitam itu berada dibelakangnya. Ikut berjalan menyusuri jalan masuk menuju rumahnya. Masha bisa mendengar langkah kaki itu, sepatu yang beradu dengan aspal. Pelan-pelan Masha menoleh, bermaksud ingin tahu siapa yang sedang berjalan dibelakangnya dan enggan untuk mendahului padahal langkanya semakin memelan.
Masha sedikit tersentak saat melihat anak itu, bibirnya membulat sama dengan bentuk  matanya yang semakin lebar. Siapa sangka jika di jalan yang panas dan sunyi seperti jam dua siang ini, dia bisa bertatap muka dengan anak yang sudah menjadi bulan-bulanan tidurnya. Yang sering ia tulis namanya dalam catatan hariannya.
“Apa kabar?” Masha menelan ludah. Kalau boleh jujur, keadaannya baru saja memburuk.
“Ba-baik. Mas Dio apa kabar?” Masha kembali bertanya. Kemudian Dio berjalan disampingnya.
“Sudah dibilang jangan manggil mas, kita masih seumuran.” Jawab Dio santai, dia memperhatikan seragam Masha yang serba putih itu. Khas Madrasah Aliyah seperti tempatnya belajar. “Madrasah juga? Pulang jam segini, nggak capek?”
Masha masih sulit berbicara, kalau dibilang capek, tentu saja. Belajar itu menguras tenaga dan pikiran, pasti lebih capek dari yang dibayangkan. Masha hanya mengulas senyum, kemudian ikut berjalan di samping Dio dengan jarak yang cukup dekat. Diotaknya masih mencerna kalimat Dio tadi, sudah dibilang jangan manggil mas, kita masih seumuran. Memangnya kapan Masha pernah memanggilnya mas kalau bukan sekali tadi.
Rasa canggungpun menyapa. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu, Masha sudah lupa. Tahu-tahu, Dio sudah menghilang kalau libur sekolah usai. Itupun ketika mereka masih di sekolah dasar.
“Sekolah dimana, mas?” ucap Masha setelah mengumpulkan banyak keberanian. Untuk saat ini, sulit baginya memilih pertanyaan ringan selain menanyakan kabar.
“MAN 3 Malang. Udah lama ya nggak ketemu,” Dio tersenyum lebar, sampai membuat kedua matanya menghilang. Masha yang baru pertama kali melihat senyum Dio dari dekat, kembali serasa disetrum habis-habisan. Degupan jantungnya semakin berlari gila-gilaan.
Dengan canggung Masha menjawab, “Iya. Kesini ngapain?”
“Libur sekolah, ada acara satu minggu di sekolah. Daripada nganggur di rumah, mendingan pulang ke sini.” Jelas Dio, kemudian mengeluarkan topi dari saku jaket dan memakainya.
Sampai sekarang ini, status Dio masih menjadi anak tunggal. Ayahnya seorang polisi dan ibunya bekerja di kantor. Seingat Masha, Dio selalu berlibur di rumah yang ada diseberang jalan rumah Masha setiap liburan sekolah tiba. Tapi semenjak masuk kelas 4 sekolah dasar, Dio sudah tidak pernah mendatangi rumah itu lagi. Dan sekarang, dia tiba-tiba muncul sendirian di sana.
Masha hanya bergumam pelan sembari menganggukkan kepala. Tidak ingin menanyakan lagi dari mana dia dan dengan siapa datang ke sini. Yang jelas Dio sendirian. Kalaupun dia datang bersama dengan ibunya, mungkin sekarang tante Sarah sudah ngobrol panjang dengan ibunya. Karena memang Sarah dan Sari, ibu Masha. Adalah teman dekat.
“Tante Sari gimana kabarnya?” Dio kembali bersua setelah mereka sama-sama terdiam.
“Ibu baik kok. Tante Sarah juga gimana kabarnya? Sehat?” Masha ikut bicara. Tiba-tiba rasa kangen muncul dibenaknya, kalau Sarah datang berkunjung, selalu saja keluarga Dio membawakan oleh-oleh makanan yang enak-enak. Tapi walaupun hari besar Islam tiba, keluarga Dio tidak lagi berkunjung ke rumah Masha.
“Mama baik juga.” Dio mengamati langkah kakinya, lebih pada sepasang sepatu yang berjalan di sampingnya. Dulu dia punya hobi melemparkan sandal Masha sampai anak itu menangis. Kalau di lihat-lihat, Masha memang menjelma jadi seorang gadis belia yang cantik. Berbeda dengan yang dulu, yang sedikit-sedikit menangis sebagai senjata terampuh ketika Dio bersikap nakal.
“Udah sampai.” Gumam Dio pada diri sendiri. Perjalanan beberapa meter tadi rasanya hanya semenit. Kini ia sudah berdiri di depan rumah bercat biru langit itu, menatap Masha di seberang jalan sana yang nyelonong masuk tanpa mengucapkan satu katapun sebelum menghilang. Dio hanya mengulas senyum kecil sampai akhirnya kembali menutup pintu gerbang yang setengah berkarat itu. Lama sekali rumah itu tidak dirawat.
Masha mengembuskan napas besar berkali-kali. Menstabilkan degupan jantungnya yang terus berlarian. Sampai akhirnya ia kembali mengintip Dio dari balik kaca jendela hitam itu. Dia sudah masuk dan menutup pintu.
Sepertinya, pertemuan singkat itu akan menjadi kenangan yang paling panjang bagi Masha. Kalau boleh meminta, ingin sekali beberapa menit tadi diulang berkali-kali sesuka hatinya. Seperti kaset DVD yang bisa ia kendalikan sesuka hati.
**
“Bu…” Masha menyapa ibunya yang sibuk membersihkan meja makan.
“Baru pulang, nduk?” ibunya masih berkutat dengan lap kain yang dielus-eluskan di permukaan meja.
“Iya,” masha bergumam pelan sembari menuang air kedalam gelas kaca tanggung ditangannya.
“Gimana sekolahnya tadi?” Tanya ibunya lagi.
“Alhamdulillah lancar. Oh ya, bu.” Masha meletakkan gelasnya kemudian mendekat pada ibunya, memposisikan dirinya untuk duduk dikursi tunggal meja itu. “mas Dio lagi disini.”
“Dio siapa?” ulang ibunya.
Masha mendengus, bagaimana bisa ibunya lupa dengan anak sahabatnya sendiri. “Itu loh, anaknya tante Sarah.” Masha kembali mengingatkan, sejenak ibunya terdiam sembari berpikir. Kemudian wanita baya itu kembali sibuk mengelap meja tanpa komentar.
“Ibu ingatkan? Sekarang dia tambah gentang ya?” Masha meringis. Kemudian memandangi jemarinya yang bermain sendiri.
“Inget loh, nduk. Kamu jangan deket-dekat sama Dio. Dia itu anak keluarga orang kaya. Lagian kenapa juga dia datang kesini, wong enakan tinggal di Malang daripada di Ngoro yang panasnya minta ampun.” Sari bicara panjang lebar, sekarang sibuk mengelap tempat lain. Namun ucapan Sari membuat Masha langsung menekuk wajahnya. Secara tidak langsung, Sari sudah tidak memberikan izin untuk Masha, walaupun sekedar dekat dengan Dio.
“Kamu jangan sampe kepincut[2] sama Dio.” Lanjut Sari. Membuat Masha semakin merasa gregetan. Bagaimanapun juga dia sudah terlanjur suka dan malah ketagitan untuk sekedar melihat Dio. Dengan alasan yang sederhana, status keluarga. Ibunya melarang Masha untuk bertindak lebih jauh lagi.
“Tapi, bu…”
“Kamukan masih kelas dua SMA, jangan mikir masalah yang aneh-aneh. Cukup belajar yang rajin biar lulus ujian. Ibu juga nggak mau ngelihat kamu sama Dio jalan bareng.”
Masha kembali diam. Mengamati gerak ibunya yang sibuk dengan kegiatan bersih-bersih menjelang sore tiba. Ia mengira, mungkin saja hubungan ibunya dengan tante Sarah sedang tidak baik. Atau memang tidak bisa membaik, mangkanya ibunya menyampaikan pesan yang sama sekali tidak ia harapkan.
**
Sari mengawasi sekitarnya. Masha sudah masuk ke dalam kamar sejak ashar tadi. Oddy, adik laki-laki Masha juga sibuk menonton TV. Dengan pergerakan cepat Sari mengangkat telpon rumahnya. Menekan beberapa digit angka sampai sambungan telpon terhubung.
Setelah mengucapkan salam dan dari seberang sana menjawab, Sari langsung nyerocos, “Gimana sih, Sarah!” ucapnya dengan nada pelan. Tapi jelas kalau sedang marah.
“Maaf, Ri. Aku juga nggak bisa ngelarang anakku buat pergi. Cuma satu minggu kok.”
“Iya, tapi kamu, kan sudah janji. Kamu juga sama saja nyiksa aku, kalau bisa besok suruh saja dia buat balik ke Malang. Hampir tiap hari aku jadi nggak berani keluar rumah.”
“Iya, sekali lagi maaf banget. Terus kapan kita ngasih tahu mereka?”
“Halah, kalau bisa ndak usah. Yang penting di pisah, sudah bener kamu pindah ke Malang. Jangan sampai balik kesini.”
“Iya. Aku ngerti.”
“Yah, yang penting jaga dia jangan sampai sakit. Insya Allah dia juga anak baik.”
Sari menutup telponnya dengan tergesa saat melihat Masha keluar kamar. Anak gadisnya itu menujukkan wajah murung dengan bibir mengerucut. Entah tahu atau tidak, tapi Sari yakin apa yang sudah dikatakannya tadi sore adalah alasan putrinya menjadi demikian. Tidak ada maksud lain bagi Sari untuk menyuruh Masha menjauhi teman masa kecilnya itu, perbedaan status yang menjadi alasannya saat ini cukup masuk akal.
“Sudah sholat, nduk?” langkah Masha terhenti sejenak, anak itu menoleh dan menatap ibunya dengan seulas senyum memaksakan dan mengangguk perlahan. Tapi senyuman yang ia berikan seketika menghilang saat kakinya kembali melangkah.
Sari hafal benar dengan sifat Masha. Kalau sedang tidak enak hati, pasti ciri-ciri seperti ini selalu ditunjukkan gadis belasan tahun itu.
**
“Ingat loh, nduk.”
Bukan malah senang, tapi kalimat itu yang selalu saja terlintas dalam ingatannya saat melihat Dio. Yang kemarin rasanya mendapatkan pasokan untuk energi hariannya, sekarang berubah seolah bertemu dengan Dio hanya akan menambah masalah jika ibunya tahu.
Masha cepat-cepat mengalihkan perhatiannya. Jalanan komplek rumahnya cukup ramai dengan anak sekolah dasar bercampur menengah pertama untuk pergi ke sekolah. Dengan ragu Masha melangkah, kembali menengok kebelakang. Ingat bahwa Dio hanya sekedar liburan untuk datang ke rumah lamanya itu, toh nanti dia juga bakal balik ke Malang. Masha mengembuskan napas sesal, Dio sudah tidak ada di gerbang rumahnya. Yang tadinya sempat majang sebentar kayak manekin dalam toko pakaian.
“Mau bareng?” suara itu membuat perhatian Masha teralihkan. Tidak sempat mengatakan apapun karena terkejut. Dia hanya menatap Dio lama-lama, seolah sedang mempertimbangkan tawaran baik anak laki-laki yang ada didepannya. “Helo?” Dio melambaikan tangan.
“Sekolahku jauh,” jawab Masha akhirnya. Bermaksud menolak tawaran Dio dengan baik. Tapi Dio malah nyengir.
“Lagian satu jalur.” Timpal Dio. “Ayo?”
Masha menggeleng, sambil tersenyum sungkan. “Takut ada polisi, kan helmnya cuma satu.” Jari telunjuk Masha terangkat didepan wajah.
“Ini aku bawa dua.” Dio menunjukkan helm yang sempat tersembunyi di dalam jok sepedanya. Masha menatapnya dengan mata membulat. Tidak tahu harus memberikan alasan apa lagi.
Ditengoknya keadaan rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sang ibu tidak terlihat sama sekali, Oddy juga sudah berangkat dari tadi, ayahnya hamper setiap hari hanya numpang tidur di rumah. Pulang malam berangkat pagi-pagi.
Akhirnya, Masha tidak bisa mengelak. Ia meraih helm yang disodorkan oleh Dio. Memasang dikepalanya dan berjalan memutar untuk duduk dibelakang Dio. Tetap saja, rasanya ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Bayangan wajah ibunya terus saja melintas.
**
Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tak perlu benar-benar diketahui. Dari manakah Tuhan dan berada dimana sekarang? Cukup dengan percaya, dan meyakini bahwa Tuhan itu ada. Dan Tuhanlah yang sudah menulis opera kehidupan manusia sebelum manusia itu terlahir.
Masha tidak habis pikir, ia juga tidak bermaksud menerima tawaran itu. Tapi hal yang paling membuatnya tidak mengerti adalah kenapa ibunya terlalu mengekang jarak antara mereka. Mungkin saja rasa kagum Masha belum menjadi sebuah perasaan cinta yang benar-benar dalam. Perasaan yang akan menghilang saat anak itu pergi dan kembali saat dia hadir.
Sari meraih tangan kanan Masha yang tengah memegang pensil. Untuk kali ini, wanita baya itu berubah lebih lembut lagi. Masha bisa merasakan ada atsmosfer yang berbeda dari ibunya. Untuk beberpa detik, Sari terus mengelus punggung tangan anaknya.
“Nduk?” wanita itu berujar. Masha yang sudah menatapnya lurus semakin terfokus. “Ibu ndak pernah ngelarang kamu buat deket sama siapa aja. Tapi kalau sama Dio, ibu takut ada sesuatu yang terjadi sama kalian. Maafin ibu ya nak?”
Masha mengernyit, berusaha mencerna kalimat ibunya baik-baik. “Memangnya ada apa sih, Bu?” Tanya Masha akhirnya. Tidak mau lagi dihantui tanda Tanya besar yang terus-terusan ia tulis. Tanda Tanya tentang perasaannya pada Dio, ditambah dengan tanda Tanya sikap ibunya yang penuh teka-teki.
Dulu, tepatnya sebelum Masha lahir. Sarah datang kerumah Sari, mereka adalah tetangga. Persahabatan dua wanita itu terjalin sejak SMA. Dan sudah seperti layaknya keluarga, jadi jika ada sesuatu yang terjadi, Sarah tidak bisa diam dan menemukan solusi sendiri. Seperti yang dialaminya belasan tahun lalu.
Waktu itu Sarah datang dengan keadaan tidak baik, yah wanita itu menangis. Jelas saja Sari akan gelagapan melihat kondisi sahabatnya. Dan dengan perlahan, Sarah menceritakan penyebab tangis parahnya. Mereka memang sama-sama sedang mengandung waktu itu, jarak usia pernikahan juga hanya dua bulan. Tapi na’asnya, Sarah mengalami keguguran karena terjatuh dua minggu sebelumnya. Usia kehamilan yang sudah tua dan ia bersama suaminya juga sudah mempersiapkan segalanya. Namun dokter mengatakan bahwa Sarah tidak bisa mempunyai keturunan lagi karena pengangkatan kandungan.
Merasa ibah dan turut bersedih, begitulah keadaan Sari waktu itu. Apalagi mendengar ancaman keluarga suami Sarah yang menyuruh mereka bercerai. Tentu saja Sari tidak ingin melihat rumah tangga sahabatnya pecah begitu saja. Sampai akhirnya keputusan itu diambilnya bulat-bulat.
Sari dan suaminya sepakat memberikan anak mereka, yang sudah tahu memang ada dua jabang bayi dalam perut Sari. Dan ketika si kembar lahir, Sari memutuskan untuk memberikan bayi laki-lakinya pada Sarah. Dan bayi perempuan dirawatnya sendiri. Ia sangat yakin kalau Sarah bisa menjamin kehidupan putranya dengan baik. Sari juga tidak memberikan syarat apapun selain merawat putranya dengan selayaknya anak sendiri. Bahkan Sari juga tidak menentukan nama apapun untuk bayi laki-laki itu, sampai nama Diorama Syahputra terdengar olehnya. Dan Masha Putri adalah nama pilihan suaminya untuk putri yang mereka rawat sendiri.
“Ibu minta maaf, tapi sepertinya kamu suka sama Dio.” Masha bisa melihat genangan air mata di pelupuk ibunya. “Kamu sama Dio itu, nduk. Masih ada ikatan darah, kalian itu saudara. Dia itu mas-mu kandung.”
Kedua mata Masha membulat, masih tidak mengerti bergelanyut bingung menerpa otaknya. Apa yang sudah dikatakan Sari membuat kepalanya serasa nyut-nyutan. Masha bergeming. Bingung mau mengatakan apa. Rasanya lidahnya berubah keluh saat keringat dingin mengaliri pelipisnya.
 “Jadi, Masha sama Dio kembar?” mau tidak mau, Sari harus mengangguk. Mengiyai kenyataan pahit.
Sari hanya tidak ingin terlambat, mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk jika ia telat mengatakannya. Terkadang, rasa rindu pada Dio begitu mengigiti hatinya. Bagaimanapun juga anak laki-laki itu adalah buah hatinya. Namun apa daya, Sari juga tidak ingin mengecewakan Sarah. Ia berusaha menyembunyikannya, dan sampai hati menyuruh Sarah untuk pindah rumah.
Tidak ingin berkomentar lagi, Masha melepas genggaman tangan ibunya. Berlari meninggalkan perangkat belajarnya menuju kamar. Menutup pintu ruang persegi itu, dan tubuhnya merosot kelantai dengan terurai tangis. Seperti ada planet yang sedang menindihi hatinya, begitu sesak.
Selesai


[1] Quotes by Mufika Haryu
[2] Kepincut : tertarik/jatuh hati (bahasa jawa)


NOTE : Assalammu'alaikum :) sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis cerpen ber-genre islam dan indonesia :D ini adalah kali pertama saya menulis setelah bertahun-tahun saya tidak pernah menjamah cerita islami. dan sebenarnya ini adalah cerita gagal lomba dari hutanta.com yah saya berniat ikut dengan tujuan memperoleh hadiahnya, eh malah nggak masuk nominasi. hehehe.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "OPERA TUHAN"

Posting Komentar