My Lost Diary - Salah memilih
Aku duduk termenung di depan komputerku sembari memandang layar ponsel yang terus menyala. Membaca pesan yang kuterima berkali-kali, entah kenapa setiap menerima pesan darinya, aku seperti melayang dan sulit untuk kembali turun. Jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya, hatiku benar-benar tak karuan. Apa aku jatuh cinta atau sekedar senang karena memang sudah lama aku tak pernah melakukan hal seperti ini-saling bertukar pesan dengan seorang laki-laki.
Aku baru mengenalnya, aku tidak tahu seperti apa rupanya dan bagaimana sifat aslinya. Aku tidak tahu apa-apa tentang dia yang baru saja kukenal selama 2 hari. Aku hanya menikmati setiap pesan yang dikirimnya padaku yang membuatku menggambarkan seperti apa sifat dan wataknya.
Hari silih berganti, aku masih berhubungan dengannya. Namun permintaanku meminta foto darinya tetap belum terpenuhi, yang membuatku semakin yakin bahwa dia orang yang rupawan seperti yang selama ini kuidamkan. Aku berusaha sabar meladeni setiap permintaannya. Sampai akhirnya hari pertemuan kami tiba. Aku datang dengan segala kebaikanku, yang dengan siap memperkenalkan diri dengan apa adanya.
Namun, hatiku berubah arah ketika aku bertemu dengannya. Berbicara panjang lebar dengannya dan hatiku terus bertanya-tanya. Kenapa dia jauh berbeda dengan yang selama ini berbicara padaku? selama kami bertukar pesan, aku merasa biasa saja dan justru nyaman. Namun setelah bertemu, semua yang sudah kubayangkan berbeda jauh.
Memang, setiap wanita mempunyai patokan untuk memilih lelaki. Bahkan dengan diriku yang sudah sering memikirkan seperti apa sosok lelaki yang sangat kudampakan sebagai ayah dari anak-anakku dan imam untukku. Dan itu bukanlah dia yang sekarang duduk di hadapanku.
Aku begitu menyukai tipikal pria yang berwibawa, berbicara tegas dan mempunyai pesona tersendiri. Namun aku tidak melihat pada dirinya, sama sekali tidak ada di sana. Dia adalah pria dengan nada bicara yang lembek, gemulai, dan aku tidak menyukai pria seperti itu. Bukan tidak menyukai, hanya saja aku tidak ingin jika memiliki imam seperti dia. Patokan utamaku adalah pria yang berbadan tinggi, mengingat diriku yang memiliki tinggi yang standart. Dan dia, tidak seperti itu. Dengan jujur aku katakan, aku suka sekali dengan pria dengan wajah yang menawan dan tampan dimataku, tapi dia biasa saja dikedua mataku. Aku telah salah memilih.
Inilah satu kecerobohan yang sering kulakukan. Dan pada akhirnya aku berusaha terus terang jika aku tidak menginginkannya. Aku berusaha jujur dan mempermanis kata-kata agar tidak menyakiti hatinya, namun hasilnya. Dia malah menghujatku, menilaiku sebagai wanita yang mendambakan kekayaan dan tampang. Padahal, aku tak pernah mempermasalahkan soal kekayaan padanya. Soal dunia masih bisa di cari bersama-sama, tapi kenyamaan hati? hanya kita yang bisa memilih. Bukankah kebahagiaan itu sebuah pilihan?
Aku ingin bahagia, dengan orang yang kucintai dan mencintaiku. Hanya itu.
Keterpurukanku bertambah ketika dia mengusik kehidupanku dengan caranya yang kuanggap murahan, seperti anak kecil dan berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah berkepala tiga.
Sebelumnya dia mengatakan padaku, dia sudah mantap denganku dan begitu menyukaiku. Dia sangat berharap agar aku tidak meninggalkannya dan aku hanya untuk dirinya. Dia juga berjanji akan memberikan pernikahan yang sejahtera padaku, dia akan segera mengurus pernikahan kami dan ia menjamin bahwa keluarganya akan menerimaku dengan tangan terbuka lebar. Namun, aku semakin takut dengannya. Aku semakin tidak nyaman dengannya dan ingin segera melemparnya jauh-jauh dari kehidupanku.
Aku sempat meminta maaf padanya karena kejujuranku yang menyakitkan untuknya. Namun sebelum semua terlanjur jauh dan aku menyesal, aku berusaha jujur semampuku. Kukatakan padanya dengan hati-hati bahwa aku tidak memiliki ketertarikan dari segi apapun darinya. Aku menceritakan seperti apa kriteria kedua orang tuaku dalam memilih pasangan untuk anaknya yang berbanding terbalik denganya dan akhirnya dia murka padaku. Namun aku merasa begitu lega dan beban yang ada di hatiku menghilang. Termasuk kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini kutakutkan terhadapnya.
Walaupun kami berujung seperti saling tidak mengenal, tak masalah bagiku. Yang terpenting adalah aku bisa menikmati kehidupanku dengan baik dan kenyamananku menjalani hidup serta ketentraman hatiku.
Salam,
Semoga sahabat-sahabatku tak pernah mengalami hal demikian.







0 Response to "My Lost Diary - Salah memilih"
Posting Komentar